Minggu, 10 Desember 2017

MEMBUAT WEBLOG PERPUSTAKAAN DENGAN MENGGUNAKAN WORDPRESS.COM


APA ITU BLOG ATAU WEBLOG

Blog merupakan kependekan dari Weblog, berasal dari kata Web dan Log. Dikenalkan pertama kali oleh Jorn Barger pada bulan Desember 2007. Weblog diartikan sebagai sebuah web yang diupdate secara kontinyu atau terus menerus dan memuat berbagai link ke website lain yang dianggap menarik dan memungkinkan orang untuk saling memberi komentar pada setiap halaman web yang ditampilkan.

Weblog sudah berkembang sedemikian pesat sebagai media sharing, informasi,  diskusi,  curhat  dan  bertukar  ilmu  pengetahuan  antara  para Blogger (sebutan bagi para pemilik blog).   Isi blog sendiri berkembang sedemikian cepat sehingga tidak hanya berbentuk teks, tapi sudah dapat berupa  gambar,  multimedia  (video),  share  files  atau  dokumen  dalam berbagai format, serta informasi-informasi popular dan ilmiah.

Sebenarnya   awal   kemunculannya,   blog   merupakan   media   yang sangat personal seperti halnya diary online, hanya seiring perkembangan maka blog sudah bukan merupakan rahasia lagi bahkan cenderung dibuat untuk  dibaca  oleh  orang  lain.  Sehingga  tak  heran,  bahwa  blog  menjadi pilihan  berbagai  orang  untuk  memberikan  informasi  kepada  orang  lain
melalui media web.









BLOG UNTUK PERPUSTAKAAN?

Dulu sebelum internet dan teknologi web belum semaju sekarang ini. Untuk membuat sebuah halaman web agar dapat dilihat oleh orang lain membutuhkan banyak sekali resources. Terutama sumber daya yang mampu menguasai bahasa pemrograman web. Namun saat ini, membuat web adalah perkara mudah dan dapat dilakukan oleh setiap orang. Orang sudah tidak lagi dituntut untuk menguasai program atau bahasa pemrograman tertentu yang itu membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya. Nah, tentu ini juga membawa dampak positif bagi perpustakaan sebagai information dan knowledge center bagi masyarakat. Perpustakaan sekarang lebih mudah untuk berbagi informasi dengan pengguna atau masyarakat umum, hanya cukup dengan memanfaatkan fasilitas blog atau weblog yang tersedia di internet.

Nah, sebetulnya kemampuan atau modal apa yang perlu dimiliki untuk dapat membuat sebuah web blog? Ada beberapa modal dasar yang harus dimiliki, yakni:

1.   Kemampuan untuk mengakses internet melalui Browser (seperti internet explorer, opera, mozilla firefox, dan thunderbird), termasuk tentunya koneksi internet.

2.   E-mail Address untuk keperluan pendaftaran

3. Mendaftar  melalui  penyedia  layanan  blog  seperti  Blogger.com; Wordpress.com atau Multiply.com

4.   Sedikit kemampuan untuk memahami bahasa inggris

5.   Kreatifitas dan kemauan untuk belajar

Nah, jadi tidak perlu menjadi seorang programmer untuk membuat sebuah blog itu.   Bagi perpustakaan, paling tidak ada beberapa keuntungan dalam membuat weblog terutama dengan cukup mendaftar ke penyedia layanan blog, yakni :



1.   Gratis   alias   tidak   perlu   membayar   atau   membayar   orang   untuk membuatkan sebuah halaman web bagi perpustakaan

2.   Hosting gratis, tidak perlu membayar

3.   Tidak  perlu  belajar  pemrograman,  karena  program  untuk  pembuatan blog sudah disediakan oleh penyedia layanan dan sangat user friendly

4.   Perpustakaan  dapat  memberikan  informasi  kepada  pengguna  secepat mungkin

5.   Adanya  interaksi  antara  perpustakaan  dan  pengguna  perpustakaan melalui web blog.

6.   Weblog   akan   memberikan   kesempatan   kepada   orang   untuk   lebih mengetahui seluk beluk perpustakaan anda



CARA MEMBUAT BLOG DENGAN WORDPRESS

Nah, untuk kali ini anda akan belajar bagaimana membuat blog untuk perpustakaan dengan menggunakan salah satu penyedia layanan blog yakni WORDPRESS.

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam membuat blog melalui wordpress.

a.   Melakukan Pendaftaran / Membuat Account Blog

   Jalankan browser dan buka alamat http://www.wordpress.com








                                                




                          











































Sabtu, 09 Desember 2017

APLIKASI TIK DI PERPUSTKAAN KATALOG ONLINE

A. Pengertian Katalog
APLIKASI TIK DI PERPUSTKAAN KATALOG ONLINE
Katalog berasal dari bahasa yunani yang berarti “daftar”, dalam pengertian umum adalah daftar nama-nama, judul dan barang-barang. Sedangkan dalam perpustakaan, katalog adalah daftar buku yang dibuat menurut sistem atau cara tertentu, secara alfabetis maupun secara sistematis untuk memudahkan temu kembali bahan pustaka yang dibutuhkan pengguna perpustakaan (user atau pemustaka) maupun oleh petugas perpustakaan.
B. Pengertian Katalog Online
Katalog online adalah katalog yang data bibliografinya disimpan dalam database komputer. Untuk membuat katalog online dibutuhkan perangkat komputer dan program aplikasi tertentu karena ‘pemanggilan data’ dilakukan dengan menggunakan bahasa komputer. Contoh : Online Public Access Catalogue (OPAC). Penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya melalui judul, subjek, dan sebagainya yaitu dengan menggunakan penelusuran boolean logic.
C. Pengertian OPAC (Open Public Access Catalog
Menurut Horgan (1994,1) menyatakan OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi, dengan satu sisi masukan (input) yang menggabungkan pembuatan file yang tercantum dan indeks. Pengguna dapat menggunakan OPAC untuk menjawab permintaan atau pertanyaan tertentu dan menjadi salah satu sarana atau alat bantu untuk menelusuri informasi di perpustakaan yang menggunakan sistem komputer yang terpasang jaringan LAN (Local Area Network).
Jadi secara umum, OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer yang digunakan oleh pengguna untuk menelusuri koleksi suatu perpustakaan atau unit informasi lainnya.
D. Sejarah OPAC
Sejarah perkembangan sistem OPAC (Online Public Access Catalog) meliputi:
a. Tahun 1960 dan Awal Tahun 1970
Pada tahun 1960an, komputer digunakan di berbagai perpustakaan umum dan perguruan tinggi untuk membantu membuat katalog. Pada saat itu, pengoperasian sistem komputer masih berada pada model atau cara yang sangat variatif sehingga kemungkinan penelusuran informasi dengan katalog terpasang (online) dianggap masih jauh dari kenyataan. Pada awal 1970an, sejumlah perpustakaan mulai menggunakan sistem komputer induk untuk mengembangkan sistem lokal. Sistem lokal ini didesain dan dirancang oleh staf dari pusat komputer.
b.    Pertengahan Tahun 1970an
Pada masa tersebut, komputer mulai menggunakan proses pengawasan sirkulasi di perpustakaan. Sistem komputer digunakan untuk tujuan pengumpulan data, khususnya pencatatan peminjaman. COM (Computer Output on Microfilm) menjadi metode yang terkenal digunakan untuk menghasilkan katalog. Perkembangan teknologi komunikasi masa kini juga ditandai dengan munculnya sistem kerjasama pengatalogan dan pemanfaatan bersama diberbagai perpustakaan. Misalnya, di Inggris LASER (London and South Eastern Library Region), dan di Amerika Utara OCLC (Ohio Collehe Library Centre). Sistem kerjasama ini menghasilkan cantuman kalatog pada komputer untuk sejumlah pepustakaan yang berpartisipasi, baik dalam bentuk COM atau kartu katalog.
c. Akhir Tahun 1970an dan Awal tahun 1980an
Pengenalan komputer mikro (microcomputer) di era ini, mendorong berbagai perpustakaan semakin mandiri untuk menggunakan fasilitas komputer yang diperoleh dari perusahaan sebagai pelanggannya dan pengembangan serta perancangan sistem sendiri (in-house system). Penggunaan komputer mikro menjadi terkenal karena menyediakan fasilitas untuk melakukan akses secara terpasang (online) terhadap berbagai simpanan (file) dalam sistem sirkulasi. Sistem komputer yang digunakan pada masa itu di perpustakaan mampu menelusuri cantuman bibiliografi secara online, sehingga sistem itu disebut sebagai sistem OPAC. Munculnya sistem OPAC di sejumlah perpustakaan tertentu,
merupakan perkembangan utama yang terjadi dalam automasi perpustakaan sampai awal tahun 1980an.
d. Pertengahan Sampai Akhir Tahun 1980an
Pada masa ini, perpustakaan menggunakan sistem OPAC makin meningkat. Mereka mulai menyediakan sistem yang terintegrasi untuk manajemen perpustakaan, mencakup modul atau sub-sistem yang berbeda, seperti pengatalogan, akuisisi, sirkulasi, pengawasan serial, layanan antar perpustakaan dan juga OPAC. Banyak perpusatkaan yang menyediakan anggaran khusus untuk pengembangan sistem OPAC. Misalnya, tahun 1985 The Britih Library Reserach and Development menyediakan anggaran sejumlah 317.395 found untuk setiap proyek penelitian sistem OPAC.
e. Tahun 1990an
Pada tahun 1990an, terlihat perubahan besar pada sitem manajemen perpustakaan dengan menawarkn kecenderungan dari sistem milik sendri (proprietary systems) bergerak ke arah sistem terbuka. Sejumlah permasalahan yang ditemui pada pengoperasian sistem di masa sebelumnya diinvetarisir dan ditemukan bahwa sejumlah besar sistem yang ada diperpustakaan pada thaun 1980an hanya bisa dijalankan pada perangkat keras (hardware) seperti DOBIS/LIBID, Geac, LIBERTAS dan URIC
E. Tujuan dan Fungsi OPAC a. Tujuan OPAC
Jadi, tujuan penyediaan OPAC di perpustakaan adalah untuk memberi kepuasan kepada pengguna dan staf perpustakaan dan mempercepat pencarian informasi yang tersedia di perpustakaan
b. Fungsi OPAC
Jadi, fungsi katalog secara umum adalah untuk menunjukkan tempat suatu buku, menginventarisasikan semua koleksi yang dimiliki perpustakaan, serta memberikan kemudahan untuk mencari koleksi yang ada di perpustakaan.
F. Teknik Penelusuran OPAC
Menurut Saleh (1996 : 76-81) Teknik penelusuran OPAC terbagi dalam lima bagian, yaitu:
•    Penelusuran dengan kamus istilah. Penelusuran menggunakan istilah yang sudah dibuat oleh CDS atau ISIS pada saat mengindeks suatu ruas atau sub ruas.
•    Penelusuran bebas. Pengguna bebas mengetikkan apa saja yang ingin dicari karena sistem ini merupakan pengganti katalog.
•    Penelusuran dengan ekspresi Boolean. Penelurusan dengan Boolean ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan umpan balik informasi yang lebih tepa sesuai dengan apa yang diinginkan.
•    Penggunaan teknik ANY merupakan cara mengelompkkkan istilah yang dapat dipakai sebagai penelusuran.
• Pemotongan istilah. Pemotongan istilah digunakan apabila akan menjaring seluruh kata yang ada dalam basis data yang diminta dalam bentuk query.
G. Keuntungan dan Kerugian a. Keuntungan OPAC
menurut Fatahi dalam Hasugian (2004 : 9) menyatakan bahwa OPAC memiliki beberapa kelebihan dari katalog kartu yaitu sisi penelusuran mencakup interaksi (interaction), bantuan pengguna (user assistance), kepuasan pengguna (user satisfaction), kemampuan penelusuran (searching capabilities), keluaran dan tampilan (out and display), ketersediaan dan akses (availabilitu and access).
b. Kerugian OPAC
Dari berbagai keuntungan, OPAC juga memiliki peluang kekurangan. Menurut Hermanto (2007 : 1) adalah:
1. Belum semua bahan pustaka masuk ke data komputer sehingga pengguna mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran.
2. Tergantung aliran listrik, bila listrik mati maka kegiaan penelusuran bahan pustaka akan terganggu.
3. Kurangnya ketersediaan komputer terminal OPAC untuk menelusuri informasi yang dimiliki perpustakaan.
H. Langkah-langkah Penelusuran OPAC
Berikut langkah – langkah dalam menelusur informasi melalui OPAC:
a. Masuk ke menu awal layanan OPAC, klik pencarian koleksi yang ada pada sebelah kiri menu utama.
b. Menu akan berubah seperti pada gambar di bawah ini, pada menu ini kriteria pencarian koleksi dapat berdasarkan judul, pengarang, dan subjeknya.
c. Setelah kita mengisi kolom yang kita cari maka menu akan berubah tampilannya.
APLIKASI TIK DI PERPUSTKAAN ENSIKLOPEDIA ONLINE
A. Internet di Perpustakaan
Ada dua hal baru yang dibawa internet ke dunia kepustakawanan dari segi pencarian informasi. Pertama, keberadaan teknologi yang serba hyper (hypertext, hyperlink, hypermedia). Kemudian hal baru yang kedua yang ditimbulkan oleh internet terhadap kepustakawanan adalah keberadaan mesin-pencari (search engine) yang sekarang ini sudah nyaris menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan informasi. Bagi sebagian besar manusia, internet adalah mesin-pencari. Bagi kepustakawanan, mesin-pencari ini menjadi fenomena baru karena sebelum ada internet, orang menghubungkan kata ‘mencari informasi’ dengan perpustakaan.
B. Sejarah Perkembangan Ensiklopedia
Ensiklopedia tertua datang dari zaman kerajaan ROM dan ditulis oleh Marcus Porcius Cato yang hidup pada abad ke-3 dan ke-2 sebelum masehi sedangkan ensiklopedia tertua yang masih wujud sekarang ialah yang ditulis oleh Plinny Senior pada abad pertama masehi yang berjudul Naturalis Historia yang mempunyai 37 jilid. selain itu ensiklopedia juga muncul pada zaman maharaja China, Dinasti Qing.
Manakala Encyclopædia    Britannica mula    muncul    di Scotland pada    tahun 1768. Seterusnya pada kurun ke-19 muncullah beberapa lagi ensiklopedia umum di Britain, Eropa dan Amerika, dan kemudian di seluruh dunia.
Dengan munculnya revolusi teknologi maklumat, maka muncullah pula ensiklopedia dalam bentuk perisian di mana setiap perkataan atau hal dapat dicari dengan mudah. Sebuah contoh yang awal ialahEncarta dan ensiklopedia keluaran Microsoft.
Pada tahun 2001 muncul pula sebuah ensiklopedia popular di internet yang sangat berjaya yaituWikipedia, sebuah ensiklopedia bebas yang boleh diakses oleh siapa saja.
C. Pengertian dan Jenis Ensiklopedia
Kata “ensiklopedia” diambil dari bahasa Yunani; enkyklios paideia (ἐγκύκλιος παιδεία) yang berarti sebuah lingkaran atau pengajaran yang lengkap. Maksudnya ensiklopedia itu sebuah pendidikan paripurna yang mencakup semua lingkaran ilmu pengetahuan. secara umum ensiklopedia merupakan sumber informasi tentang berbagai cabang ilmu yang cukup lengkap sebagai bahan referensi yang tersusun secara sistematis.
Ensiklopedi pun dapat dibagi atas beberapa jenis yaitu : ensiklopedi umum/ nasional, ensiklopedi khusus atau ensiklopedi subyek dan ensiklopedi international/ universal.
D.Ensiklopedia Online
ensiklopedia online merupakan penelusuran informasi yang terkandung dalam ensiklopedia dengan menggunakan jaringan internet yang dioperasikan oleh komputer sehingga pencarian informasi tersebut berbasiskan modem.beberapa situs ensiklopedia online antara lain: wikipedia, an encyclopedia for curious minds, citizendium, columbia encyclopedia, encyclopedia.com, reference, whatis, askaward.

Kamis, 16 November 2017


A. Komunikasi di Perpustakaan

Komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan organsasi. Berhasil atau tidaknya organisasi tersebut dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai sangat tergantung pada kualitas komunikasi yang terjadi antar anggota organisasi. Jika dilihat dari pihak-pihak yang terlibat serta darimana pihak-pihak tersebut berasal dalam proses komunikasi maka aktivitas komunikasi yang dilakukan di perpustakaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi internal dan eksternal. Komunikasi internal merupakan komunikasi yang dilakukan antara pustakawan dengan pustakawan, antar pustakawan dengan kepala perpustakaan atau antara pustakawan dengan unit lain di lembaga serta antara pustakawan dengan pimpinan lembaga. Sedangkan komunikasi eksternal adalah komunikasi dengan pihak luar perpustakaan seperti dengan media masa, pihak-pihak yang berkepentingan dengan perpustakaan.
Perpustakaan perlu mengelola komunikasi internalnya dengan baik. Usaha ini diperlukan agar tercipta suasana yang kondusif di perpustakaan. Suasana yang kondusif memungkinkan pustakawan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Pengelolaan komunikasi eksternal diperlukan untuk memelihara hubungan baik dengan stake holder perpustakaan serta membangun citra posistif tentang perpustakaan.
Komunikasi yang dilakukan oleh seorang pustakawan baik dalam konteks komunikasi internal maupun eksternal memiliki beberapa tujuan, berbagai tujuan tersebut anatara lain :
  1. Perubahan Sikap, sikap merupakan suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bertingkah laku tertentu terhadap suatu objek.
  2. Perubahan Opini, opini merupakan sesuatu topik yang sedang berkembang dimasyarakat. Saat ini opini yang berkembang di masyarakat tentang perpustakaan cenderung bernilai negatif. Perpustakaan hendaknya selalu berkomunkasi dengan pemustaka sehingga mampu merubah opini masyarakat yang salah tentang perpustakaan.
  3. Perubahan perilaku, setelah mampu merubah sikap serta opini maka tujuan terakhir dari komunikasi yang dilakukan oleh pustakawan adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan sikap dan opini. Sebagai contoh jika seorang sebelumnya enggan datang ke perpustakaan maka apabila telah terjadi perubahan perilaku maka orang tersebut akan rajin untuk datang ke perpustakaan.
  4. Berkomunikasi Secara Cerdas
Seorang pustakawan dituntut untuk bisa menyampaikan dan mengirim informasi, berita atau pesan dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan akal budinya (dengan berpikir) secara cerdas dengan  lisan (verbal). Karena berdasarkan suatu studi ditemukan bahwa mereka banyak memberikan pekerjaan secara lisan. Komunikasi lisan dapat berupa pertemuan tatap muka dari dua orang, atau seorang manajer menghadapi banyak pendengar ; komunikasi ini dapat formal atau informal, dan dapat terencana atau tidak. Komunikasi bisa dikatakan cerdas apabila memiliki unsur-unsur di bawah ini :
1.     Berkomunikasi Secara Efektif
Pemakai perpustakaan adalah orang-orang yang datang kepada kita (para petugas) dengan maksut, tujuan, dan harapan tertentu serta ingin memperoleh apa yang diinginkan dengan cara yang menyenangkan. Oleh karena itu, para petugas bidang pelayanan diharapkan menguasai teknik komunikasi yang sederhana, tetapi efektif, yang akan menimbulkan saling pengertian dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara kedua belah pihak. Dari beberapa definisi komunikasi diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses pemindahan / penyampaian warta / berita / informasi yang mengandung arti dari satu pihak (seseorang atau tempat) kepada pihak lain dalam upaya saling pengertian. Kunci komunikasi efektif adalah mencoba mengerti dan melakukan tindakan untuk memuaskan keinginan pemakai perpustakaan. Dengan demikian, anda akan menambah jumlah pemakai perpustakanya.


2.     Berkomunikasi Secara Santun
Percakapan merupakan realitas komunikasi penggunaan yang berlangsung dalam interaksi sosial karena prinsipnya percakapan tersebut menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial. Oleh sebab itu percakapan tidak lepas dari pengaruh sosial budaya. Hal itu sesuai dengan pandangan fungsional terhadap bahasa bahwa sebagai sistem tanda, bahasa tidak terlepas dari faktor eksternal, yaitu ciri sosial, ciri demografi, dan sebagainya dan berarti pula bahwa fungsi bahasa tidak saja untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk menunjukkan identitas sosial bahkan budaya pemakainya. Pengguna bahasa pada percakapan merupakan fenomena sosial dan budaya yang tidak terlepas dari tradisi berbahasa penuturnya. Dalam berbahasa tiap pelaku tutur senantiasa dilatari oleh faktor sosial dan nilai budaya atau tradisi di sekitarnya. Kebiasaan dapat bervareasi pada satu tempat dengantempat lain, antara satu bangsa dan bangsa lain.
Pemakaian bahasa dalam interaksi tidak dapat dapat dilepaskan dari fungsi bahasa dan komponen-komponen interaksi yang lain. Keberhasilan pemakaian bahasa sebagai sebagai sarana interaksi dengan fungsi tersebut dipengaruhi oleh faktor pelaku tutur dan konteks yang melatarinya. Oleh sebab itu, pemakaian bahasa dapat dipandang sebagai sistem yang di dalamnya melibatkan komponen kebahasaan, pelaku tutur, dan konteks tersebut. Dengan kata lain, aktivitas berbahasa senantiasa dipengaruhi oleh komponen kebahasaan, hal-hal yang berkaitan dengan pelaku tutur, dan faktor sosial budaya sebagai konteks percakapan.
3.    Mendapatkan Efek
       Alasan yang utama mengapa kita mempelajari proses komunikasi, ialah untuk mengetahui bagaimana komunikasi mendapat efek. Kita ingin mengetahui bagaimana efek suatu jenis komunikasi kepada seseorang. Terhadap isi pesan (message content) yang kita kirimkan, kita ingin punya kemajuan untuk meramalkan efek apa yang akan timbul pada pihak penerimanya. Mungkin kita dapat menggambarkan secara sederhana apa yang kita namakan “the condition or succes in communication” (kondisi suksesnya komunikasi, yakni kondisi-kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki.

B.  Faktor-faktor mempengaruhi sikap komunikasi yang efektif oleh pustakawan terhadap pemustaka

Ada beberapa faktor yang harus diketahui oleh pustakawan dan pemustaka dalam berkomunikasi antara lain:
a.       Faktor-faktor budaya
Antara manusia yang satu dengan yang lainnya memiliki budaya yang berbeda-beda sesuai tempat tinggalnya. Budaya Jawa berbeda dengan budaya Lombok, budaya Lombok berbeda dengan budaya Aceh, budaya Aceh berbeda dengan budaya Batak, dan begitu seterusnya. Apabila seseorang tidak memperhatikan budaya orang lain dalam berkounikasi, bisa jadi stimulan yang diberikan pembicara atau penerima tidak sampai dan bahkan dapat disalahpahami.
Pengertian dan penerimaan akan beragamnnya kebudayaan yang satu dengan yang lain dapat membangun relasi yang baik di antara pustakawan dan pemustaka.
b.      Faktor kondisi fisik
Baik fisik yang menyangkut pustakawan, pemustaka, media yang digunakan, ini dapat menjadi faktor baik buruknya relasi antar pengguna dan pustakawan. Seperti ada pemustaka yang difabel, tidak merupakan anggota difabel, ada pemustaka atau pustakawan yang kondisi fisiknya tinggi, pendek, dan sebagainya. Hal ini perlu diperhatikan dalam membangun relasi. Kondisi fisik ini perlu diperhatikan dalam rangka menyesuaikan komunikasi yang bagaimana yang harus dipakai serta media apa yang tepat untuk keduanya. Antara pemustaka biasa dan pemustaka difabel tentu berbeda dalam menyikapinya maupun dalam menyikapi media yang diperlukan.
c.       Faktor emosional
Antara pustakawan dan pemustaka hendaknya mampu membaca situasi emosional yang terjadi, walaupun di sini pustakawan sebenarnya lebih dituntut untuk sebaik mungkin mengatur emosi sesuai kondisi pemustaka. Namun pustakawan tetaplah manusia yang dalam kehidupannya sama dengan pemustaka. Maka, dalam hal ini sebaiknya antara pustakawan dan pemustaka harus saling mengerti kondisi emosi masing-masing. Hal ini sangat mempengaruhi relasi keduanya. Ada yang bilang bahwa sukses itu tidaklah sepenuhnya bergantung pada kecerdasan intelektual, namun kecerdasan emosional juga sangat diperlukan di sana.